Thursday, September 23, 2021

Indonesia Mendukung Ikrar Memangkas Metan

Presiden Joko Widodo dalam pertemuan KTT Climate Change virtual dengan pemimpin dunia, April 2021. SETPRES


 Target global perubahan iklim ialah kenaikan suhu bumi maksimum 1,5 derajat Celsius. Indonesia siap berkontribusi, antara lain, lewat baterai lithium, biofuel, dan netral karbon di 2060.

Musim panas 2021 ditandai dengan fenomena cuaca yang menggelisahkan. Banjir besar dan tanah longsor melanda berbagai negara di belahan bumi utara. Negara-negara yang selama ini dikenal bisa mengelola lingkungan dan tata ruangnya dengan cermat seperti Kanada, Jepang, Korea Selatan, Jerman, Belgia, Belanda, Prancis, dan Kanada, diterjang banjir. Bahkan Norwegia pun ikut dihantam tanah longsor.

Belum lagi serangan gelombang udara panas dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di Kanada lebih dari 500 ribu ha hutan terbakar. Di Rusia 1,5 juta ha dan di Amerika Serikat (AS) 3,5 juta ha ludes dimakan api pada 2021. AS pun kini dikenal sebagai negara rawan banjir, karhutla, dan badai siklon tropis (hurricane).

Cuaca bukan lagi fenomena negara per negara, melainkan hanya dampak dari iklim global yang kini terdisrupsi oleh perubahan iklim (climate change). Emisi karbon serta gas rumah kaca lainnya perlu direm agar climate change tidak makin menjadi-jadi. Itulah sebabnya, Presiden AS Joe Biden pun menghelat event Major of Economies Forum (MEF) on Energy and Climate 2021, Jumat malam (17/9/2021). Fokusnya ialah isu ekonomi, yang pengaruhnya sangat dominan dalam neraca karbon.

Forum pembicaraan reguler yang diniatkan “langsung dan tanpa basa-basi” itu awalnya digagas oleh Presiden Barack Obama pada 2009. Anggotanya ialah 17 negara yang dianggap punya potensi besar dalam pengendalian emisi kabon. Perhelatan MEF di level kepala negara telah beberapa kali digelar, namun terhenti di era Presiden Donald Trump. Presiden Joe Biden menggulirkanya kembali.     

MEF 2021 ini digelar secara virtual, dihadiri 10 kepala negara /kepala pemerintahan. Presiden Joko Widodo menjadi satu di antaranya. Selain  10 kepala negara, forum tersebut juga dihadiri Presiden Komisi Eropa, Presiden Dewan Eropa, dan Sektraris Jenderal PBB Antonio Gutteres.

‘’Presiden Amerika Joe Biden telah mengundang sejumlah negara-negara utama untuk hadir pada pertemuan ini. Pada kesempatan malam ini, Bapak Presiden adalah salah satu dari hanya 10 kepala pemerintahan lainnya yang hadir dan berbicara pada  pertemuan melalui virtual setting,” ujar Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Mahendra Siregar seusai mendampingi Presiden Jokowi pada acara tersebut.

Pertemuan Major Economies Forum bertujuan menggalang kerja sama negara-negara utama untuk mengayunkan langkah konkret dan ambisius demi mewujudkan target dari pertemuan tahunan conference of parties (COP) di Glasgow, November mendatang. Menurut Wamenlu, tujuan spesifik yang akan digulirkan di Glasgow, Skotlandia, adalah memastikan bahwa perubahan suhu atmosfir bumi tak melebihi satu setengah derajat celsius.

Dalam konteks itu, yang menjadi satu fokus utama adalah penyampaian mengenai apa yang disebut nationally determined contribution (NDC), yaitu komitmen masing-masing negara rangka mengatasi perubahan iklim. Secara khusus, sesuai dengan fokus dari pertemuan malam ini adalah terkait dengan transisi ke energi baru dan terbarukan.

Secara spesifik, Presiden Biden juga mengajak para peserta yang hadir pada pertemuan ini untuk mendukung apa yang disebut dengan global methane pledge, yaitu kesepakatan atau suatu ikrar  bersama untuk juga mengatasi emisi yang disebabkan oleh gas metan. Para pakar climate change mencatat bahwa satu gram metana punya efek buruk setara dengan 22 gram karbon dioksida.

“Terkait dengan global methane pledge yang merupakan usulan Presiden Biden, Presiden Jokowi secara umum mendukung. Presiden Indonesia menyarankan agar seluruh prosesnya dilakukan secara terbuka melalui mekanisme transparan dan bersifat partisipatif. Dalam konteks Indonesia. penurunan gas metan sudah dicakup di dalam NDC dari Indonesia yang juga sudah di-update dan disampaikan kepada PBB ataupun UNFCCC, badan dunia yang menangani perubahan iklim,”  ujar Mahendra menambahkan.

Aksi Bersama

Saat ini, dunia tengah menghadapi situasi sulit dalam sejumlah sektor, termasuk sektor energi dan iklim. Situasi sulit tersebut tidak dapat ditangani oleh satu negara saja, melainkan dibutuhkan aksi bersama dalam skala global. Demikian pesan yang disampaikan Presiden Joko Widodo dalam pidatonya pada pertemuan Major Economies Forum on Energy and Climate 2021. Kredibilitas ikrar menekan emisi gas metan itu, menurut Presiden Jokowi,  akan ditentukan oleh aksi konkret, dan itu  sangat krusial.

Presiden Jokowi pun menyampaikan komitmen Indonesia untuk berkontribusi dalam menghadapi situasi darurat tersebut. Dari sektor energi, pemerintah telah mencanangkan transformasi menuju energi baru dan terbarukan, serta akselerasi ekonomi berbasis teknologi hijau pada Agustus lalu.

‘’Untuk mewujudkan transformasi ini, kami telah menyusun strategi peralihan pembangkit  listrik dari batu bara ke energi baru terbarukan, mempercepat pembangunan infrastruktur energi baru terbarukan yang didukung pelaksanaan efisiensi energi, meningkatkan penggunaan biofuels, dan mengembangkan ekosistem industri kendaraan listrik,” tuturnya.

Selain itu, Presiden mengungkapkan bahwa Indonesia telah menargetkan netral karbon (net zero)  pada 2060 dengan kawasan percontohan yang terus dikembangkan. “Termasuk pembangunan Green Industrial Park seluas 20 ribu hektare, yang terbesar di dunia, di Kalimantan Utara,” ungkap Presiden.

Terkait transisi energi, Presiden menuturkan bahwa kemitraan global diperlukan karena transisi energi bagi negara berkembang membutuhkan pembiayaan dan teknologi yang dapat terjangkau. ‘’Kami membuka peluang kerja sama dan investasi bagi pengembangan bahan bakar nabati, baterai litium, kendaraan listrik, teknologi  carbon capture and  storage, energi  hidrogen, kawasan industri hijau, dan pasar karbon Indonesia,” imbuhnya.

Presiden Jokowi juga mendukung  global methane pledge yang bertujuan memangkas 30 persen emisi metana global pada 2030. Ia menyebut, ikrar global methane itu bisa  pula menjadi  momentum penguatan kemitraan dalam mendukung kapasitas negara berkembang.

Turut mendampingi Presiden Jokowi dalam acara tersebut yaitu Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya.

Sumber: https://indonesia.go.id/kategori/editorial/3253/indonesia-mendukung-ikrar-memangkas-metan

No comments:

Post a Comment

What is ESG? | Environmental, Social, and Governance

  Investasi lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) adalah filosofi investasi di mana standar tanggung jawab sosial dipertimbangkan ketik...