Wednesday, September 29, 2021

Ini yang Bakal Terjadi di Tahun 2500 Jika Manusia Acuh pada Krisis Iklim

Pemanasan global Foto: Pixabay


Mungkin hanya sedikit orang yang menyadari bahwa Bumi yang kita pijak sedang bergerak pada kehancuran akibat dampak pemanasan global dan perubahan iklim yang terus berlanjut tanpa ada tindakan nyata.

Dampak jangka panjang dari krisis iklim ini meliputi peningkatan gas rumah kaca, suhu dan permukaan laut yang akan terasa nyata pada tahun 2100. Berbagai upaya untuk menangani masalah ini sebenarnya telah dilakukan. Seperti Perjanjian Paris yang setiap negara di seluruh dunia membatasi pemanasan di bawah 2 derajat Celsius.

Kini para ilmuwan telah membuat model penelitian untuk menggambarkan kemungkinan yang akan terjadi di tahun 2100 hingga 2500 jika manusia tidak segera bertindak. Dilaporkan dalam The Conversation, para peneliti meninjau laporan ilmiah Intergovernmental Panel on Climate Change’s (IPCC).

Laporan IPCC menilai penelitian pemetaan wilayah di mana kita tinggal dan apa yang harus dilakukan sebelum tahun 2100 untuk menghentikan pemanasan, serta apa yang akan terjadi jika mereka tidak melakukannya.

Yang pasti, berdasarkan penelitian PBB yang diterbitkan United National assessment of Nationally Determined Contributions (NDCs) manusia harus bersiap dengan kenaikan suhu 2,7 derajat Celsius pada tahun 2100, ini berarti akan terjadi kebakaran, badai, kekeringan, banjir, pemanasan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jadi, bagaimana dan seperti apa anak cucu kita menjalani kehidupan setelah tahun 2100?

Ilutrasi kekeringan akibat pemanasan global. Foto: Shutter Stock


Kehidupan setelah 2100

Pada 2100, akankah iklim berhenti memanas? Jika tidak, apa yang akan terjadi? Peneliti menulis di Global Change Biology, untuk mengetahui jawabannya, mereka membuat proyeksi model iklim global berdasarkan Representative Concentration Pathways (RCP), yang merupakan “proyeksi berlandaskan waktu dari konsentrasi gas rumah kaca (GRK) atmosfer”.

Proyeksi mereka memodelkan skenario mitigasi rendah (RCP6.0), sedang (RCP4.5), dan tinggi (RCP2.6 yang disesuaikan dengan Perjanjian Paris di bawah 2 derajat Celsius) hingga tahun 2500.

Mereka juga memodelkan distribusi vegetasi, tekanan panas, dan kondisi pertumbuhan tanaman saat ini. Ini dilakukan untuk memahami jenis tantangan lingkungan yang mungkin dihadapi anak cucu kita di masa depan.

Hasilnya mereka menemukan, bahwa suhu rata-rata global akan terus meningkat setelah tahun 2100 di bawah RCP4.5 dan RCP6.0 (mitigasi sedang hingga rendah). Di bawah skenario tersebut, vegetasi dan area pertanian bergerak ke arah kutub, sementara area untuk bercocok tanam berkurang secara global. Tempat-tempat bersejarah dan ekosistem terpelihara seperti Lembah Amazon akan berubah tandus.

Lebih lanjut, peneliti menemukan tekanan panas mencapai tingkat paling fatal bagi manusia di daerah tropis yang saat ini berpenduduk padat. Daerah tersebut mungkin menjadi tidak layak huni. Bahkan di bawah skenario mitigasi RCP2.6, permukaan laut akan terus naik dan air laut akan terus memanas.

Model ini membantu mengungkapkan besarnya potensi dampak iklim jangka panjang. Untuk benar-benar menggambarkan seperti apa dunia dengan mitigasi rendah dan sedang peneliti memproyeksikannya dalam lukisan. Berikut gambaran Bumi mulai dari tahun 1500, 2020, hingga 2500.

 Amazon

Gambaran dari Amazon mulai tahun 1500 hingga 2500. Foto: Lyon dkk., 2021/CC BY-ND


Gambar di atas menunjukkan desa adat tradisional pada 1500 M dengan sungai dan tanaman di hutan hujan Amazon. Gambar tengah adalah lanskap masa kini. Sementara paling bawah menunjukkan gambaran tahun 2500, terlihat tanah yang tandus, permukaan air rendah akibat penurunan vegetasi dengan infrastruktur yang rusak karena penurunan aktivitas manusia.

Midwest AS

Tanaman jagung yang saat ini bisa ditanam akan berubah menjadi kelapa sakit seiring dengan pemanasan suhu. Foto: Lyon dkk., 2021/CC BY-ND


Lukisan paling atas adalah situasi masyarakat adat pra-kolonisasi. Kedua adalah area yang sama saat ini, dengan monokultur biji-bijian dan alat berat untuk panen. Terakhir, menunjukkan adaptasi pertanian ke iklim subtropis yang panas dan lembab, dengan agroforestri subtropis kelapa sawit. Tanaman dirawat oleh drone AI dengan kehadiran manusia yang berkurang.

Wilayah Asia Selatan

Gambaran wilayah pertanian dari tahun 1500 hingga 2500. Foto: Lyon dkk., 2021/CC BY-ND


Gambar paling atas adalah pemandangan desa agraris dengan tanaman padi, ternak dan masyarakat sosial. Kedua adalah pemandangan masa kini yang menunjukkan perpaduan antara pertanian padi dan infrastruktur modern. Sementara gambar paling bawah menunjukkan masa depan teknologi adaptasi panas termasuk pertanian robotik dengan kehadiran manusia memakai peralatan pelindung diri.

Masa depan yang asing

Antara tahun 1500 hingga 2020, kita telah menyaksikan penjajahan dan Revolusi Industri, kelahiran negara-negara modern, identitas dan institusi, pemakaian bahan bakar fosil dalam jumlah besar dan kenaikan suhu global.

Jika kita gagal menghentikan pemanasan iklim, 500 tahun ke depan dan seterusnya akan mengubah Bumi dengan cara di luar kemampuan manusia dalam mempertahankan banyak hal penting untuk bertahan hidup.

Bumi akan menjadi tempat asing bagi manusia. Pilihannya satu, segera mengurangi emisi, sembari terus beradaptasi dengan pemanasan yang tidak dapat kita hindari akibat emisi, atau mulai menganggap kehidupan di Bumi berbeda.

Sumber: https://kumparan.com/kumparansains/ini-yang-bakal-terjadi-di-tahun-2500-jika-manusia-acuh-pada-krisis-iklim-1wbstmrXFZq/full

No comments:

Post a Comment

What is ESG? | Environmental, Social, and Governance

  Investasi lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) adalah filosofi investasi di mana standar tanggung jawab sosial dipertimbangkan ketik...