Wednesday, September 29, 2021

Menuju Transisi Mandiri Energi, Berikut 4 Potensi Energi Terbarukan di Indonesia

 

Ilustrasi Energi Terbarukan © mlmagz.com

Dilansir dari laman Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), Indonesia memiliki potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang cukup besar. Potensi ini tentunya memberi masa depan yang menjanjikan bagi kemandirian energi Indonesia yang saat ini masih disokong oleh energi fosil.

Menurut The Conversation, pemerintah Indonesia telah mencanangkan bauran EBT yang mencapai 23 persen pada 2025 dan naik menjadi 31 persen pada 2050. Hal ini menunjukkan komitmen Indonesia menuju transisi energi. Disebutkan pada laman KESDM, total investasi yang diserap pengembangan EBT sampai tahun 2025 diproyeksikan sebesar 13,197 juta USD.

Sebagai suatu negara kepulauan dengan iklim tropis, Indonesia memiliki potensi besar dalam bidang EBT. Berikut empat di antaranya.

1. Energi panas bumi (geothermal)

Ilustrasi Geothermal | Foto: KS Orka Renewables

Energi geothermal adalah energi panas yang terkandung dalam fluida air (bisa dalam uap, cair, atau campuran keduanya) yang berada pada kedalaman lebih dari 1 kilometer di bawah permukaan bumi. Fluida panas ini memiliki temperatur dan tekanan yang tinggi yang menjadikannya sebagai penyedia energi yang masif.

Jumlah potensi energi geothermal Indonesia ialah sekitar 11.073 Megawatt listrik (MWe) dan cadangannya sekitar 17.506 MWe. Sayangnya, sebagai negara dengan potensi energi terbarukan geothermal terbesar di dunia, kita masih belum maksimal dalam segi pemanfaatannya.

Sumber energi ini tersebar hampir merata di lebih dari 300 titik dari Sabang sampai Merauke. Hal tersebut menjadikan pemanfaatan energi geothermal dapat membantu mengatasi krisis listrik di masa kini dan masa depan.

Dalam Road Map Pengembangan Geothermal yang disusun oleh Kementerian ESDM, Indonesia menargetkan pengembangan energi geothermal sekitar 7000 MW pada 2025. Program ambisius ini membutuhkan investasi yang besar, penyiapan teknologi yang mumpuni, manajemen penyediaan sumber daya manusia yang kompeten, dan dukungan iklim investasi yang menarik bagi investor.

Total kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Indonesia saat ini ialah sebesar 1.948 MW. Jumlah ini menjadikan kita sebagai negara produsen energi geothermal terbesar kedua setelah Amerika Serikat (3.591 MW).

2. Energi Surya

Ilustrasi PLTS | Foto: Laman EBTKE ESDM


Sebagai negara tropis dengan sinar matahari yang bersinar sepanjang tahun, Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Energi alternatif terbarukan ini cukup menjanjikan untuk menopang kebutuhan energi masyarakat di Indonesia khususnya masyarakat desa.

Menurut catatan Kementerian ESDM, elektrifikasi di Indonesia masih 55-60%, dan mayoritas wilayah yang belum teraliri listrik adalah wilayah pedesaan. Oleh karena itu, energi surya dapat menjadi salah satu energi alternatif untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat di desa. Hal ini memungkinkan karena sifat panel surya yang dapat dibangun dimana saja.

Potensi energi surya di Indonesia dinilai sangat besar, yakni sekitar 4.8 KWh/m2 atau setara dengan 112.000 GWp, tetapi yang sudah dimanfaatkan baru sekitar 10 MWp. Telah memiliki basis kebijakan yang kuat, pemerintah kini tetap harus fokus dalam produksi photovoltaic (PV) yang akan menjadi komponen utama dalam sistem PLTS.

3. Energi Biomassa/biogas

Ilustrasi Energi Biogas | Foto: alatujilingkungan.id


Energi biogas adalah energi yang dihasilkan dari limbah organik seperti kotoran ternak, atau limbah dapur seperti sayuran yang sudah digunakan. Limbah-limbah tersebut akan melalui proses urai yang dinamakan anaerobik digester di ruang kedap udara.

Komponen utama dari energi biogas ini adalah gas metana (CH4) dan karbondioksida (CO2). Kedua gas tersebut dapat dibakar atau dioksidasi dan melepas energi yang dapat dimanfaatkan manusia untuk kebutuhan sehari-hari. Semakin besar kandungan metana dari energi biogas, maka akan semakin besar juga energi yang bisa dihasilkan dari biogas tersebut.

Biogas sendiri dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai energi alternatif pengganti LPG untuk memasak dan bahan bakar generator untuk menghasilkan listrik. Selain itu, biogas dinilai lebih aman untuk bumi karena pembakaran biogas mampu mengurangi emisi gas kaca. Biogas juga dapat mengurangi bau, serangga, dan patogen yang berasal dari timbunan kotoran tradisional.

Menurut Kementerian (ESDM) pengembangan biogas di Indonesia merupakan tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia. Tercatat, biogas rumah tangga yang sudah terpasang mencapai 47.505 unit di seluruh wilayah Indonesia dengan menghasilkan biogas sebanyak 75.044,2 m3/hari atau sekitar 26,72 juta m3/tahun.

Kementerian ESDM akan terus mengejar target Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) mencapai 5.5 GW pada tahun 2025. Harapannya biogas akan menjadi salah satu energi alternatif utama bagi masyarakat Indonesia pada masa yang akan datang, dan dapat menjadi salah satu upaya untuk menjaga bumi dari pemanasan global.

4. Energi Laut

PT Pertamina Hulu Energi (PHE) ONWJ | Foto: IST


Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang memiliki wilayah laut terbesar, yaitu sekitar dua pertiga wilayah Indonesia adalah laut. Hal tersebut menjadi keuntungan bagi Indonesia dari segi besarnya potensi energi laut.

Energi laut yang dihasilkan dari gerakan dan perbedaan suhu lapisan laut (samudera) merupakan sumber energi di perairan laut yang berupa energi pasang surut, energi gelombang, energi arus laut, dan energi perbedaan suhu lapisan laut. Saat laut pasang dan saat laut surut aliran airnya dapat menggerakkan turbin untuk membangkitkan listrik.

Potensi termal lautan Indonesia ialah sebesar 2,5 x 1.023 Joule dengan efisiensi konversi energi panas laut sebesar tiga persen, menghasilkan daya sekitar 240.000 MW. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa energi gelombang di beberapa titik di Indonesia bisa mencapai 70 kW/m di beberapa lokasi.

Karakteristik energi gelombang dinilai sesuai untuk memenuhi kebutuhan energi kota-kota pelabuhan dan pulau-pulau terpencil di Indonesia. Pemanfaatan energi gelombang yang sudah diaplikasikan di Indonesia baik oleh lembaga litbang (BPPT, PLN) maupun institusi pendidikan lainnya baru pada tahap penelitian. Harapannya, di masa depan energi gelombang dapat menjadi salah satu energi terbarukan yang menjanjikan.

Dilansir dari Kompas, Indonesia masih memanfaatkan sebagian kecil energi terbarukan, yaitu hanya sekitar 2,3 persen dari potensi yang ada. Padahal, potensi energi terbarukan yang dimiliki negara kita ialah sekitar 442 gigawatt (GW), atau sekitar tujuh kali lipat dari kapasitas listrik yang telah terpasang di tanah air.

Kini, kebutuhan penggunaan energi kian bertambah tiap waktunya, khususnya dengan adanya digitalisasi dan pertambahan penduduk. Agar tidak terjadi defisit energi di masa depan, pengembangan energi baru dan terbarukan menjadi suatu keharusan.*

Sumber: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2021/09/29/menuju-transisi-mandiri-energi-berikut-4-potensi-energi-terbarukan-di-indonesia

No comments:

Post a Comment

What is ESG? | Environmental, Social, and Governance

  Investasi lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) adalah filosofi investasi di mana standar tanggung jawab sosial dipertimbangkan ketik...