Monday, September 27, 2021

Pengembangan PLTN Stagnan, Energi Terbarukan Justru Meningkat Pesat

Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).(Shutterstock)


Analis independen kebijakan dan energi nuklir Mycle Schneider menuturkan, perkembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di seluruh dunia cenderung stagnan dalam sepuluh tahun terakhir.

Di sisi lain, pengembangan energi terbarukan justru meningkat pesat di seluruh dunia selama dekade terakhir.

Dia mencontohkan, di Perancis, bauran listrik dari PLTN mencapai rekor terendahnya pada 2020 selama 30 tahun terakhir.

Adanya opsi pembangkitan energi terbarukan yang lebih murah menjadi penyebab rendahnya adopsi PLTN tersebut.

Hal itu dipaparkannya pada hari kedua Indonesia Energy Transition Dialogue (IETD) 2021 pada Selasa (21/9/2021).

IETD 2021 diselenggarakan oleh Indonesia Clean Energy Forum (ICEF) dan Institute for Essential Services Reform (IESR).

“Berinvestasi pada PLTN dapat menggagalkan tercapainya target perubahan iklim. Karena seharusnya, pendanaan yang ada dialokasikan kepada opsi teknologi yang sudah tersedia, murah, dan dapat diimplementasikan dengan cepat,” jelas Schneider.

Konsultan independen transisi energi Craig Morris berujar, sulit untuk memprediksi harga listrik yang diproduksi dari PLTN mengingat PLTN tidak terlalu merespons harga pasar.

Di kesempatan yang berbeda, Program Manager Transformasi Energi IESR Deon Arinaldo mendorong untuk lebih memprioritaskan teknologi energi terbarukan untuk melakukan dekarbonisasi mendalam di sektor energi.

“Upaya dekarbonisasi sektor energi perlu terjadi dengan cepat dan dimulai sekarang juga agar sesuai dengan Persetujuan Paris,” tutur Deon.

Dia menambahkan, di Indonesia, teknologi rendah karbon yang sudah siap secara komersial dan cepat dibangun adalah energi terbarukan.

Sedangkan teknologi yang lain seperti PLTN dan CCS (carbon capture storage atau teknologi penangkap karbon) masih dalam tahap pengembangan.

“Waktu yang kita punya tidak banyak untuk memitigasi krisis iklim ini,” tegas Deon.

Sementara itu, Zaki Su’ud dari Fakultas Matematika dan Sains Institut Teknologi Bandung (ITB) merekomendasikan beberapa kebijakan yang perlu dilakukan pemerintah untuk mendukung tercapainya target dekarbonisasi Indonesia pada 2060 atau lebih cepat.

Pertama, semua sumber daya energi harus dimanfaatkan secara optimal dengan mengutamakan kualitas dan keamanan energi di Indonesia.

Kedua, kebijakan bauran energi harus dilaksanakan dan dievaluasi dengan baik terhadap ketersediaan energi yang andal, murah, berkelanjutan, dan harus mematuhi isu lingkungan global khususnya perubahan iklim.

Ketiga, pemerintah perlu mengalokasikan dana penelitian terkait energi terbarukan yang cukup serta mengintegrasikan secara optimal seluruh potensinya di Indonesia.

“Energi terbarukan masih terus berkembang dan membutuhkan kebijakan yang tepat dan konsisten dari pemerintah supaya bisa mendukung keamanan energi nasional dan tercapainya target dekarbonisasi Indonesia,” jelas Zaki dalam IETD 2021.

Sumber: https://www.kompas.com/global/read/2021/09/26/110000770/pengembangan-pltn-stagnan-energi-terbarukan-justru-meningkat-pesat?page=all#page2

 

No comments:

Post a Comment

What is ESG? | Environmental, Social, and Governance

  Investasi lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) adalah filosofi investasi di mana standar tanggung jawab sosial dipertimbangkan ketik...