Sunday, September 19, 2021

Saran Pakar untuk Mitigasi dan Antisipasi Pesisir Utara Jawa Tenggelam

 

Warga beraktivitas di sekitar terpaan gelombang laut pesisir Pantai Utara di Pekalongan, Jawa Tengah, Senin, 1 Juni 2020. Kredit: ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra/pras.

Beberapa pakar memberikan beberapa saran mitigasi dan antisipasi yang perlu dilakukan agar prediksi pesisir Pulau Jawa akan tenggelam tidak terjadi. Berdasarkan penelitian, pesisir utara Pulau Jawa diprediksi akan tenggelam karena perubahan iklim dan penurunan muka tanah. 

Dalam webinar 'Ancaman Tenggelamnya Kota Pesisir Pantai Utara Jawa, Apa Langkah Mitigasinya?' pada Kamis 16 September 2021, pakar iklim dan meteorologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN, Edvin Aldrian, menjelaskan kondisi saat ini diperburuk oleh pergeseran tektonik dan efek surutnya air tanah yang membuat muka tanah turun. 

“Sehingga cara terbaik adalah menyetop pengambilan air tanah dari sumur bor atau penyedotan,” ujar dia, Kamis. Artinya, Wakil Ketua Kelompok Kerja I Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) itu melanjutkan, pemerintah daerah harus bisa menyediakan air untuk kehidupan di wilayahnya dan perlu memastikan ketersediaan situ-situ atau penampungan air, sehingga bisa menjadi sumber air. “Ini adalah konsep kota modern.”

Konsep seperti itu, Edvin berujar, sudah diterapkan di beberapa kota di dunia, seperti di Melbourne, Australia, dan Tokyo, Jepang yang sudah tidak lagi menggunakan air tanah. “Salah satu mitigasi yang sempurna ya ini, harus disetop,” tutur Edvin.

Berdasarkan data Penginderaan Jauh BRIN, wilayah DKI Jakarta, penurunan muka tanah di sepanjang pesisirnya terukur 0,1-8,0 sentimeter per tahun. Sementara, berturut-turut di Cirebon, Jawa Barat, sebesar 0,3-4,0 cm per tahun; Pekalongan, Jawa Tengah, sebesar 2,1-11,0 cm per tahun; Semarang, Jawa Tengah, sebesar 0,9-6,0 cm per tahun; dan Surabaya, Jawa Timur, sebesar 0,3-4,3 cm per tahun. 

Peneliti ahli utama BRIN, Eddy Hermawan, menerangkan, bahwa salah satu mitigasi dengan membuat tanggul, tapi ini hanya jangka pendek saja dampaknya. Namun, jika ingin yang jangka panjang, perlu kembali ke lingkungan yang memenuhi standar.

“Lingkungan jangan dirusak, bisa penanaman manrove yang paling tidak bisa meredam. Karena kita tidak mungkin menghentikan laju pencairan di kutub, tapi setidaknya ada upaya,” ujar dia.

Eddy yang juga pakar meteorologi itu menyarankan agar pemukiman di tepi pantai bisa dinaikkan. Selain itu kesadaran masyarakat terhadap kerusakan lingkungan yang perlu ditingkatkan. “Karena ini mengakibatkan untung yang tidak seberapa tapi ruginya besar. Ini harus dibayar mahal apabila tidak bisa diredam.”

Sependapat dengan Eddy, Peneliti Ahli Utama Bidang Teknologi Penginderaan Jauh BRIN, Rokhis Khomarudin, juga menyarankan agar back to nature. Menurutnya, berdasarkan data satelit pengamatan, ada beberapa kemajuan menarik terkait penanaman mangrove di Surabaya dan Bekasi, yang sudah nampak di citra satelit.

“Ini patut kita apresiasi, tapi harus disurvei juga, langkah ini bisa 3-4 tahun terlihat di satelit,” kata dia sambil menambahkan bahwa dirinya pernah melakukan simulasi pembangunan tanggul untuk mitigasi, tapi perlu beberapa hal diperhatikan agar benar-benar efektif.

Sumber: https://tekno.tempo.co/read/1507294/saran-pakar-untuk-mitigasi-dan-antisipasi-pesisir-utara-jawa-tenggelam/full&view=ok

No comments:

Post a Comment

What is ESG? | Environmental, Social, and Governance

  Investasi lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) adalah filosofi investasi di mana standar tanggung jawab sosial dipertimbangkan ketik...