Tuesday, September 28, 2021

Tak Hanya Mobil Listrik, Bahan Bakar Nabati Juga Penting Turunkan Emisi

Penggunaan Biosolar B20 di SPBU Pertamina(Dok. Pertamina)

Bahan bakar nabati (BBN) dan hidrogen berperan penting untuk mencapai dekarbonisasi menyeluruh di sektor transportasi.

Kesimpulan tersebut merupakan hasil kajian dari Essential Services Reform (IESR) berjudul Deep decarbonization of Indonesia’s energy system.

Kendaraan listrik yang bersumber pada energi terbarukan akan mendominasi pada 2050 terutama untuk kendaraan penumpang.

Sedangkan penggunaan BBN dan hidrogen akan beralih ke sektor transportasi yang tidak dapat dielektrifikasi seperti kendaraan berat.

Spesialis Bahan Bakar Bersih IESR Julius Adiatma menjelaskan bahwa dalam jangka pendek, hidrogen berpotensi untuk mulai digunakan di sektor industri sambil melihat perkembangan keekonomian dari hidrogen.

“Sementara untuk sektor transportasi darat, kendaraan listrik berbasis baterai merupakan opsi yang paling tepat,” kata Julius pada hari keempat Indonesia Energy Transition Dialogue (IETD) 2021, Kamis (23/09/2021).

Menurutnya, kendaraan listrik memiliki efisiensinya yang lebih tinggi, harga yang terus menurun, teknologi yang juga semakin meningkat.
Secara ekonomi, dia berpendapat bahwa BBN terutama biodiesel akan memainkan peran yang cukup besar di Indonesia.

Faktor tersebut salah satunya adalah karena tersedianya sumber daya hayati untuk memproduksi BBN.

“Sayangnya, saat ini BBN terfokus pada minyak kelapa sawit (biodiesel). Sedangkan lahan yang tersedia untuk mengembangkan lahan sawit semakin sedikit,” ujar Julian dalam acara yang digelar oleh Indonesia Clean Energy Forum (ICEF) dan IESR tersebut.

Merujuk pada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Outlook Energy 2021, Peneliti BRIN Eniya Listiani Dewi mengemukakan bahwa pengembangan kendaraan listrik yang disertai dengan pemanfaatan energi terbarukan dapat secara efektif menurunkan emisi karbon.

“Kami meminta PLN untuk memperbanyak penetrasi energi baru terbarukan. Kalau kendaraan elektrik jarak tempuhnya terbatas, kita perpanjang menggunakan bahan bakar hidrogen,” ujar Eniya.

Menurut Eniya, teknologi pengembangan bahan bakar hidrogen hijau dengan konsep elektrolisis dari kombinasi PLTS atau turbin angin dapat menjadikannya sebagai penyimpan energi.

“Saat ini sedang dilaksanakan studi (elektrolisa-red) PLTS Apung Cirata. Nantinya kelebihan energi dari PLTS tersebut akan direkomendasikan untuk proses elektrolisa air dan memproduksi gas hidrogen,” tutur Eniya.

Sumber: https://www.kompas.com/global/read/2021/09/26/100000270/tak-hanya-mobil-listrik-bahan-bakar-nabati-juga-penting-turunkan-emisi

No comments:

Post a Comment

What is ESG? | Environmental, Social, and Governance

  Investasi lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) adalah filosofi investasi di mana standar tanggung jawab sosial dipertimbangkan ketik...